Thursday, December 24, 2009

lebih pinter belum tentu lebih bener.

terasa dan kelihatan pinter belum tentu pinter beneran.

Akhir2 ini sering pusing gara-gara kebanyakan ngomong.
Karena percaya ucapan adalah doa, saya sering mengucapkan hal-hal (yang menurut saya) baik dan asik. Bermula dari mengucapkan dalam pikiran, ketika diajak ngobrol

Monday, December 21, 2009

masa tidak bekerja.

untuk beberapa orang adalah liburan, untuk beberapa orang adalah kebosanan, untuk beberapa orang adalah besok tidak makan, untuk beberapa orang adalah quality time.

Saturday, December 5, 2009

Kematian hati,

"Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri."
____
by this nice young Pradiptajati Kusuma.

Namanya rindu, anak ibu bapak saya nomer 7


Friday, December 4, 2009

Why we're here 101, part #1

pak Giri Suryatmana berkata lewat anak perempuannya, "kita hidup di bumi ini sebagai khalifah yang diberi amanah untuk meneruskan bumi dan agama kepada anak cucu yang sudah kita didik sebaik-baiknya agar nilai-nilai baik terus berkelanjutan.. itulah tujuan hidup ini pada hakekatnya."

Tuesday, December 1, 2009

Fictions are good, sometimes.

before saturday afternoon:

let you loved ones travel.
he was crying.
if you are swimming in the ocean, you'l never realize how truly vast it is.
The Weasley Family.
"what a woman.."

The Damage of Sexual Promiscuity

What about the girl...

The answer, of course, is that a woman also receives a great deal of damage from being sexually promiscuous, and her damage is both psychological and physiological. First the psychological damage:

When a woman experiences sex without commitment, she soon learns (falsely) that sex means little to nothing. Why? Because nothing happens as a result: no meaningful relationship ensues - he may never even call her or talk to her again. She has inaccurately learned that sex and commitment are two completely separate issues, which they are not. That is why so many married woman view sex as an unimportant side issue in marriage, when it is, in fact, a key and central issue to a successful marriage. God's original plan was to use sex as the path to commitment. But because of promiscuity, she no longer views sex as a path to her husband's commitment. On the contrary, she begins to demand that commitment BEFORE sex is granted, something he is not wired to do. The result is a relationship that struggles to succeed.

As for the physiological damage, science shows us that when a woman has sex with a man, a chemical called oxytocin is released into her system. Oxytocin is a neuro-peptide most commonly associated with pregnancy and breast-feeding. It seems to act as a human superglue and helps a woman bond with her infant. This chemical also helps a woman bond with her lover during sex. New scientific studies, however, suggest that if a woman has multiple sexual partners, this will lower her levels of oxytocin which in turn can inhibit her ability to bond to her husband. According to an article by Drs. John Diggs and Eric Keroack, "People who have misused their sexual faculty and become bonded to multiple persons will diminish the power of oxytocin to maintain a permanent bond with an individual." [You can read the entire article at http://www.abstinence.net/library/index.php?entryid=344]

It is like taking a piece of strong packing tape and applying it to a box. Leave it alone, and it will hold that box together for decades and decades. Take it off and re-apply it and, well... it just doesn't hold as well anymore. Keep taking it off and applying it a taking it off and applying it and... I think you get the idea. This is what can happen to a woman who has multiple sex partners.

The Boys are the Biggest Losers

Even though a woman also can suffer negative consequences from promiscuity, I believe that men can have the most to lose. Why? Because a sexually promiscuous woman, despite lowered levels of oxytocin and a less than positive attitude toward sex in general, still is internally wired to WANT to connect with her husband. Indeed, that desire is so strong, it causes her to fight through many of the negative side affects of her previous sexual experiences. A man, however, has no such natural "wiring". If he fails to properly "imprint" and bond to the wife of his youth, he may spend the rest of his life in a disconnected state from her - indeed, from any woman. What he may do is attempt to re-connect with what he had imprinted on so many years earlier and foolishly turn to porn, affairs, lust, etc... All which can have severe negative consequences to his marriage.

Overcoming Sexual Damage

The degree of sexual damage people receive largely depends on the degree to which people become sexually involved before marriage, particularly if there are numerous sexual partners. It also can vary from person to person. For some who have had just a few consensual experiences, they may seem to carry little residual effects; while for others, even just one consensual experience can cause them to struggle later in their marriage. You can imagine the result if a person's sexual experiences were not consensual as in rape or incest - it is likely that much more damage will have occurred.

The question now is: can a person who has been damaged have a meaningful sex life? Thankfully, the answer is yes, any person can have a wonderful sex life, but it will more likely come easier to those who waited until marriage. Those who did not may find they will have to work at it a lot harder.

Here's an analogy I like to use: there are people who can seemingly eat anything they want and never gain any weight. Then there are those who allow themselves the slightest indulgence and they will gain a couple of pounds! What is the difference? One has a very different metabolism from the other.

So it is true with those who did not wait till marriage for sex - their "sexual metabolism" may be very different from those who did wait. Evidence shows that couples who wait until marriage report more satisfying sex lives than those who do not wait. And since sex is so important to the bonding of the couple, this is why couples who marry as virgins have a much lower divorce rate than those who did not wait. A couple whose only sexual experience has been with each other is much more likely to experience a natural "bonding" whereas those who have been promiscuous may find they will need to be much more intentional and deliberate in their approach to sex in order to bond.

*snatched from here.

Monday, August 10, 2009

Saturday, July 18, 2009

labour of love


Apapun yang terjadi besok, teman-temanku... entah apakah album kita ini cuma laku 25 kopi yang mana 20 nya kita sendiri yang membeli... atau bisa menyaingi penjualan album Thriller nya almarhum Michael Jackson... It doesnt matter.

Yang penting proses, bukan hasil. Kata-kata itu begitu sering saya ucapkan sampai kalian tertawa mengejek setiap saya mengucapkannya. Dan proses yang kita lakukan saat ini bersama-sama lebih bernilai bagi saya dibanding uang maupun statistik laporan penjualan kita besok.

Izinkan aku untuk sedikit bermenye-menye, teman-temanku, karena kalian luar biasa. Kerja keras kalian untuk membantu lancarnya sebuah album dimana nama kalian hanya muncul di halaman "thanks to" dengan ukuran font 8 poin yang begitu kecil dan tak terbaca manula. Seorang sinis dapat berkata pada kalian "Apa untungnya? Ngga dapet duit ngga dapet nama?". Tapi kalian tau persis itu semenjak kalian menawarkan diri untuk membantu, bahwa tak ada materi dan pamor yang akan kalian dapatkan di sini. Kalian tau persis bahwa seorang saya bukanlah artis top yang akan membuat kalian tampak penting ketika berfoto bersama saya dan di tag di facebook. Toh kalian tetap membantu... dan tak hanya sedikit, namun banyak waktu ide dan usaha yang kalian tuangkan di sini. Di ruang stock yang kita sulap jadi kantor cilik nan nyaman ini dengan satu komputer lemot yang harus dipakai bergiliran.

Saya pun tau persis kalian bukan orang-orang dengan track record mengagumkan di industri musik. Sebagian dari kalian bahkan tak punya pengalaman di bidang bisnis musik baik skala kecil maupun raksasa. Namun bagi saya, passion kalian jauh lebih bernilai dibanding portfolio apapun.
Dan siapa bilang kalian tidak profesional? Kalian mengatur jadwal, menagih vendor produksi, mendesain merchandise, membuat strategi-strategi promo tanpa budget, (sebab budget adalah sesuatu yang kita tak punya), mengatur cash flow, mengupdate website, repot2 setiap sebelum manggung untuk memastikan bahwa kami personil band tidak usah pusing. Menghubungi semua kawan-kawan kalian yang kiranya dapat membantu. Memacu motor selesai kuliah untuk segera bekerja sampai tengah malam atau sampai pacar mulai uring-uringan. Menyelinap keluar bahkan membolos dari kantor kalian. Masih pula menawarkan "Apa lagi yang bisa kami bantu?"....

Ada drama-drama kecil di sana sini tentunya. Kadang jalan kita terhambat karena keterbatasan dana.
Kadang satu dua orang diantara kita sendiri sedang menjengkelkan. Lalu kita mengeluh "Ini harusnya udah selesai, tapi si anu lama banget ngasih itunya"...
Kadang kita berselisih pandangan "kebanyakan logo sponsor bikin desain jadi jelek"
"tapi ini promo, kita butuh media partner"
Kadang ada pula satu dua kali kalian merasa kerja kalian tidak diapresiasi "udah capek-capek ngambil naik motor, mbok ya dia bilang makasih." atau "Kenapa sih si anu tuh maunya tau beres aja."
Itu sangat manusiawi. Toh di akhir hari kita selalu tertawa lagi.

Teman-teman, saya tak tau di mana harus mulai berterimakasih. Yang bisa saya lakukan hanya selalu disini bersama kalian, setiap hari, mengerjakan semuanya bersama-sama. Dari nol sampai titik akhir.
Siapa yang tau, apabila suatu hari nanti kita terpisah di jalan...dan kemudian kamu ke arahmu dan aku ke arahku, moga-moga dengan cara yang beradab pula... selalu ingat bahwa pernah ada suatu masa dimana saya menuliskan ini sebagai rasa terimakasih, penghargaan dan cinta kalian atas uluran tangan kalian sekarang ini. dan saat ini, kalianlah alasan mengapa saya masih menolak untuk tenggelam dan karam hari ini.

I love you so much.

tika

smile

Sincere smile heals both who smiles and who receives a smile.

Tuesday, July 14, 2009

growing our own food

There are many different forms of sustainable food supply systems, but the most effective, although usually the least discussed, is for people to grow some of their own food. I could write a lot about this, but for now I thought I would list the three main reasons why my family and I will grow our own food.


1. Growing our own food is one of the best thing we can do for our health. All of that fresh air and exercise, abundant amounts of fresh fruits and vegetables, a relaxing and productive way to spend our time as well as a deep sense of pride and connection with the natural systems - all of this has enhanced our mental and physical health.

2. Growing our own food is one of the best things that we can do for the local and global environment. By gardening in a sensible way, the food that we grow and eat ourselves requires few external inputs, causes no pollution, travels zero food miles, is essentially "carbon free" and all wastes are naturally recycled into next years food. Environmental issues provide the imperative for changing our food supply systems, and growing our own food is the easiest, cheapest and most effective way to make a difference.

3. Given the nature of power in our societies and the extent of control exerted by multinational corporations, growing our own food is one of the most significant acts of civil disobedience that we can participate in. Our diet, our health and well-being, our sense of belonging and our perception of what is important, is manipulated and controlled by powerful interests for the sake of profit and the economy. This is the foundation of our dominant food systems, and provides the greatest obstruction faced by those who seek change, but every time that we eat something that we grew ourselves, we are putting power and control back into our own hands, where it belongs.

My family and I are not 'self-sufficient', but we do produce a substantial amount of our primarily vegetable based diet, while living close to the centre of Dublin, Ireland. I am not suggesting that everyone should be growing most of their own food, but the more food that is eaten by those who grow it, the better the world will be. Even a little bit helps. This fact should be recognised by any environmental, health or social policy and should be a central focus of our urban planning.

---
taken from here.

Sunday, July 5, 2009

steve

"No, snakes are no problem. I'd go to any country, anywhere, any snakes, not a problem. " - steve irwin

hayao

"I am a pessimist. But when I'm making a film, I don't want to transfer my pessimism onto children. I keep it at bay. I don't believe that adults should impose their vision of the world on children, children are very much capable of forming their own visions. There's no need to force our own visions onto them."

-
hayao's view.

lisda

SEKOLAH ‘KOTAK SABUN’ YANG ISTIMEWA

Sebagai seorang guru yang telah berpindah-pindah tempat mengajar sejak tahun 1978 dan belakangan bekerja sebagai konsultan pendidikan saya banyak berkeliling melihat berbagai jenis sekolah baik di tanah air dan juga di luar negeri. Dari sekian banyak sekolah tentu saya melihat banyak sekolah bagus maupun sekolah buruk. Saya pernah melihat sebuah sekolah dasar di daerah terpencil di Kalimantan Timur yang hanya memiliki satu guru dan celakanya hanya lulusan SD! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa dimintai jasanya untuk menjadi guru karena penduduk yang lain sibuk ke laut sebagai nelayan. Saya juga pernah mengajar di sebuah sekolah internasional dengan faslitas yang begitu ‘wah’ yang bahkan buku-buku dan pensilnya diimport dari Amerika. Kami tinggal memilih di katalog apa saja yang kami inginkan dan selanjutnya barang-barang tersebut akan datang ke sekolah kami. Kami bisa minta hampir apa saja! Saya sendiri memesan banyak buku referensi bagi guru tentang metode pembelajaran yang mutakhir. Saya tinggal conteng-conteng buku di katalog yang saya inginkan dan semua buku yang saya minta tidak pernah ditolak. Kami memang bebas untuk meminta apa saja materi, alat dan bahan-bahan pelajaran, buku-buku siswa maupun penunjang bagi bidang studi yang kami ajarkan masing-masing. Tapi ketika kepala sekolah ingin pesan ‘clay’ alias tanah liat dari Amerika untuk bahan pelajaran membuat keramik (kami punya peralatannya lengkap), saya langsung memrotesnya. ‘We don’t need clay from the States, we have plenty here’ kata saya mencegahnya memesan tanah liat import. Gila apa! Masak tanah liat aja mesti impor dari Amrik! Meski saya hanya guru bahasa Indonesia dan ia kepala sekolah tapi protes saya ia dengarkan dan ia turuti. Itu enaknya bergaul dengan expatriates karena mereka tidak otoriter. Jika argumen kita benar maka ia akan mengikuti kita.

Hampir semua sekolah di luar negeri (Sabah, Sarawak, Kedah, Kuala Lumpur, Singapura, dan Australia) menimbulkan rasa kagum dan iri di hati saya. Jelas bahwa negara-negara tersebut telah melakukan reformasi dalam bidang pendidikan mereka sehingga berada jauh di atas sekolah-sekolah kita kualitasnya.

Meski demikian ada dua sekolah yang menurut saya kualifikasinya ISTIMEWA (kebetulan keduanya di Indonesia). Kedua sekolah ini telah menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam upaya mendorong siswa mereka mengolah potensi diri masing-masing to the fullest potential. Kedua sekolah yang saya beri penghargaan ISTIMEWA tersebut adalah : SMP Alternatif Qaryah Tayyibah di di desa Kalibening Salatiga, Jawa Tengah (dimana saya pernah menitipkan anak saya selama satu bulan belajar disana dan ia sangat menikmatinya) dan satunya adalah SMKTI Airlangga di Samarinda, Kalimantan Timur.

SMP Alternatif Qaryah Tayyibah sering saya ulas di berbagai milis. Ini beberapa diantaranya :
http://satriadharma.com/index.php/2007/11/29/konferensi-guru-indonesia-2007/
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5805&post=15
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/26725
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/27192
http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/26726

SMKTI Airlangga Samarinda yang web resminya adalah : http://smka-smr.sch.id/ atau di : http://id.wikipedia.org/wiki/SMKTI_Airlangga ini hampir tidak pernah saya ulas karena kebetulan sekolah ini di bawah yayasan Airlangga yang kebetulan saya salah seorang pengurus dan pendirinya. Kalau saya ulas nanti dikira saya pamer atau berpromosi. Padahal saya samasekali tidak terlibat dalam manajemen sekolah ini dan sepenuhnya dikelola oleh para staf manajemen di Samarinda.

Saya sebut ISTIMEWA adalah karena meski gedung sekolah dan kelas-kelas SMKTI Airlangga sangat kecil dan mirip ‘kotak sabun’ tapi prestasinya luas biasa. Sekolah yang disindir sebagai sekolah ‘kotak sabun’ dan kayak lorong penjara oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim ini (baca http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/34545) hampir selalu meraih juara dalam lomba LKS tingkat Nasional. SMK TI Airlangga secara konsisten merajai bidang lomba TI di provinsi Kaltim sejak tahun 2004, serta secara konsisten pula mampu meraih prestasi baik di tingkat nasional. Suatu saat mungkin mereka bisa maju ke tingkat internasional. Berikut ini adalah catatan prestasi mereka :
Juara 4 Nasional pada tahun 2004
Juara 2 Nasional pada tahun 2005,
Juara 3 Nasional pada tahun 2006,
Juara 1 Kaltim pada tahun 2004,
Juara I Kaltim pada tahun 2005,
Juara I Kaltim pada tahun 2006,
Juara I Kaltim pada tahun 2007, dan
Juara I Kaltim pada tahun 2008 dengan 3 emas dan 1 Perak.

Pada LKS SMK Kaltim 2008 di Balikpapan dari 4 kategori lomba teknologi informasi SMK TI Airlangga mengirimkan 4 siswa unggulannya untuk bertanding di ajang paling bergengsi tersebut. Hasilnya luar biasa, nyaris sempurna, 3 emas dan 1 perak. Sekolah-sekolah SMK Negeri terbaik di Kaltim yang bahkan sudah berstatus SBI dan berstandar internasional ISO ternyata tak mampu mengimbangi prestasi sekolah yang disebut oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim sebagai ‘sekolah kotak sabun’ tersebut.
Apa hebatnya sekolah ini selain langganan juara? Sekolah ini memang ‘Sekolah para Juara’ dalam artian yang luas, selain memang langganan juara dalam lomba LKS (Lomba Ketrampilan Siswa) tingkat Propinsi dan Nasional.

Siswa di sekolah ini benar-benar haus ilmu dan saling berlomba untuk menguasai berbagai ilmu yang diajarkan (atau pun tidak) oleh para gurunya. Jadi seperti siswa di SMP Qaryah Tayyibah, para siswa benar-benar didorong untuk menumbuhkan potensi dirinya seluas-luasnya. Kalau di Qaryah Tayyibah ada Kang Ahmad Bahruddin sebagai kepala sekolah maka di SMKTI Airlangga ada duet Pak Sigit Sigalayan dan Pak Adriyanto. Pak Sigit dan Pak Adri ini sama-sama jebolan ASTRA. Pak Adri adalah lulusan Fulbright dari Amrik dan anggota milis kita. Tapi beliau selalu begitu rendah hatinya sehingga tidak pernah mau menyampaikan apa-apa saja inovasi dan kreasi yang mereka lakukan di sekolah SMTI Airlangga.

Satu hal yang membuat saya tercengang ketika berkunjung ke sekolah tersebut (SMKTI ini di Samarinda dan saya tinggal di Balikpapan) belakangan ini adalah kemampuan para guru dan pimpinan sekolah untuk memacu siswa berlomba meraih ilmu dan pengetahuan.
Ketika saya kesana saya ditunjuki profil siswa yang ditempel di papan sekolah. Profil yang dibuat oleh siswa sendiri tersebut ada foto dan data-datanya. Selain foto dan data ada kolom tentang berapa lama mereka telah bergabung. Disitu tertulis : Telah bergabung dengan SMKTI Airlangga selama … bulan/tahun. Lalu ada kolom : Program dan materi yang telah saya kuasai selama ini adalah : …. . Jadi siswa harus menuliskan apa-apa saja materi dan program yang telah mereka kuasai selama bersekolah di SMKTI Airlangga. Selain kolom materi yang telah dipelajari ada kolom yang berisi : Materi/program yang AKAN saya pelajari pada semester ini adalah : …. Jadi mereka harus menuliskan apa materi dan program yang hendak mereka pelajari pada semester tersebut.

Kolom yang paling membuat saya kagum adalah kolom tentang : Cita-cita saya setelah keluar dari SMKTI Airlangga adalah : … dimana mereka harus menuliskan visi dan tujuan hidup mereka dengan jelas secara operasional setelah kelak lulus dari SMKTI Airlangga. Jadi mereka harus benar-benar tahu apa yang akan mereka tuju dalam belajar di SMKTI Airlangga dan apa yang hendak mereka raih setelahnya. Saya melihat bahwa mereka benar-benar mengejar apa cita-cita dan target jangka pendek dan panjang mereka! Bagaimana tidak lha wong ‘ikrar’nya sudah mereka tulis dan pampangkan di papan umum dan semua orang membaca apa yang hendak mereka lakukan dan tuju! Kalau dalam satu semester mereka tidak menambah materi atau program yang mereka kuasai maka itu berarti ia tidak melakukan apa-apa dalam semester itu dan itu tentu sangat memalukan bagi siswa. Ingat bahwa semua siswa menuliskan ikrarnya tentang apa saja yang akan mereka pelajari dalam semester ini. Setiap siswa tahu apa target siswa lainnya dan mereka bisa melihat apa saja yang telah diraih oleh siswa lainnya. Bayangkan kalau kita berada dalam situasi itu. Kita pasti juga tidak ingin menjadi the only looser in the gang dan akan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jadi siswa benar-benar didorong untuk berkomitmen pada dirinya sendiri. Tidak bisa tidak SETIAP SISWA pasti akan memiliki jiwa dan semangat pemenang dalam situasi tersebut. Saya sungguh belum pernah melihat sekolah lain yang seperti ini. Konsekuensinya, para siswa ini bukan hanya senang berlama-lama di sekolah tapi mereka bahkan menginap di sekolah kalau ada proyek! Sekolah ini benar-benar 24 hours kayak toko 7 Eleven saja. Kebetulan sekolah tersebut sudah menggunakan jaringan internet 24 jam dan siswa benar-benar memanfaatkannya.

Mengapa saya katakan ini sekolah ISTIMEWA? Disamping bahwa gedung sekolah ini dibangun di atas tanah berstatus kontrak yang kecil (dan sebenarnya tidak layak untuk dijadikan sebagai sekolah), kelas-kelasnya juga kecil dan hanya muat sekitar 20 an siswa per kelasnya. Gedungnya berlantai dua dan dibangun seefisien mungkin sehingga memang agak sempit dan tidak menyisakan ruang luang sedikit pun. Itu sebabnya kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kaltim menyindirnya sebagai sekolah ‘kotak sabun’ dan lorongnya seperti penjara. Selain itu, siswa yang masuk ke sekolah tersebut bukanlah siswa-siswa pilihan atau siswa-siswa kelas menengah atas (yang masuk SMK biasanya anak-anak kelas menengah ke bawah. Anak-anak dengan intelektual terbaik masuk ke SMA dan SMK Negeri favorit. SMKTI Airlangga dapat sisa-sisanya). Meski demikian justru sekolah ‘kotak sabun’ inilah yang selalu membuat Dinas Pendidikan Kota Samarinda dan Propinsi Kaltim berbangga hati karena tidak pernah absen mempersembahkan juara dalam lomba LKS tingkat Propinsi atau pun tingkat nasional (dan bukan sekolah-sekolah negeri yang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan ISO itu). Siswa-siswa di sekolah negeri yang hebat-hebat itu tidak mampu mengimbangi prestasi siswa SMKTI Airlangga yang semula hanya sisa siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. Bahkan orang luar yang mengetahui prestasi siswa SMKTI Airlangga ini tidak bisa tidak menyampaikan rasa kagumnya seperti di blog ini : http://geeks.netindonesia.net/blogs/yusuf.wibisono/archive/2005/08/12/6235.aspx

Saya sungguh bersyukur bahwa salah satu sekolah yang saya dirikan (meski tidak melakukan apa-apa) memiliki prestasi yang luar biasa seperti ini. Saya bisa mengatakan bahwa di antara beberapa sekolah yang saya dirikan ada satu sekolah yang saya SANGAT BANGGA padanya. Penghargaan ini saya persembahkan pada Pak Sigit Sigalayan, Pak Adriyanto, dan semua team yang tergabung di dalam staf SMKTI Airlangga Samarinda ini (Di Balikpapan kami juga punya SMKTI Airlangga Balikpapan, dimana Pak Syamsul Zarnuji sebagai kepala sekolahnya). Dedikasi Pak Sigit dalam mengelola sekolah ini benar-benar jauh lebih tinggi dari kami para pendiri dan pengurus yayasannya. Saya mesti tabik hormat dan angkat topi setinggi-tingginya bagi beliau dan semua staf.

Jika Anda ingin belajar bagaimana caranya memotivasi siswa agar benar-benar ‘menyala’ dan ‘terbakar’ really hot serta memiliki semangat sebagai pemenang dalam hidup maka saya anjurkan Anda untuk melakukan studi banding ke sekolah ‘kotak sabun’ kami yang istimewa tersebut.
Hubungilah Pak Sigit Sigalayan di : sigalayan67@yahoo.com atau kunjungi blognya di :
http://sigalayan.blogspot.com/
Atau bisa ke Pak Adriyanto di : Mohamad Adriyanto madriyanto@gmail.com dengan blognya : http://bakung.blogspot.com/
Jadikan sekolah Anda sama istimewanya dengan sekolah ‘kotak sabun’ kami.

Satria Dharma
Balikpapan, 18 Agustus 2008

risfa

home is where your heart is.

Saturday, July 4, 2009

mr. seetoh's way of living his art of doing fun

makansutra.

yaya

the color of being on your mark get set and go.

Dr. razavi's good to know info

practical tips for living a healthier life, lebih baik mencegah daripada mengobati. insha Allah ridho cepat sehat.

becky & tania's adventure trip

Menabung, mengalami dan berbagi.

"It all started from a (silly) dream. (But no dream is actually silly)

We were foreign exchange students in the US in 2000-2001. We promised ourselves to go back there one day, with our OWN money, every little cent of it.
we know it doesn't come cheap...but we've thought of it, and so while we're young and not yet married... why not?
we guess, when we're settling down later on..., family become our priority...and traveling wouldn't be as easy...

In 2007, we promised to make it happen in 2009. We encouraged each other to save money monthly. We motivated each other endlessly. And the day finally arrives.." - becky & tania

noran

pagi ini saat mau ke kelurahan perpanjang ktp, saya bertemu salah satu mbak-mbak okem yang jujur dan lumayan kocak.

rahmat, menonton bola

Menonton pertandingan sepak bola di stadion lebak bulus minggu lalu saya bertemu rahmat. Datang beramai-ramai naik bis metro mini carteran dari bekasi barat bermaksud mendukung klub bola idola.

tia

Bertemulah dengan teman saya tia, seorang guru sekolah dasar yang tetap semangat untuk selalu menyebarkan semangat bahwa sekolah itu menyenangkan.

hau sing chia


Perempuan yang sering menghabiskan waktunya tersenyum ceria di antara kulkas bekas dan tempat penyimpanan es balok itu adalah mamak hau sing chia
.

Kalau
jalan kaki melewati daerah toko tiga, mak hau selalu berada di sana ditemani segelas teh dalam cangkir biru bertutup. Dengan tatapan tenang sepoi-sepoi, mak hau duduk rileks memantau berbagai kegiatan yang terjadi di depan toko kiauw ming penjual makanan kemasan impor. Kalau tiba-tiba dia bersinggungan mata dengan orang yang sedang memperhatikannya, mak hau langsung menyunggingkan senyumnya. klink!